“Memeluk Cahaya Dengan Cinta”
Pada hari saat kita menyadari, kita tengah kembali pulang bukan ke rumah dunia, tapi dengan meniti 7 jalan masuk ke dalam rumah jiwa, maka Cahaya akan menyapa kita.
Di sana, kita kan temui Dia yang tak pernah pergi dan senantiasa ada, menanti bersama hati yang terus-menerus berusaha, agar mampu saling memaafkan segalanya.
Ampunan bukanlah sekadar kata, melainkan jembatan sunyi menuju kedalaman rasa, manakala cinta menjadi bahasa, dan keikhlasan menjelma jadi pintu masuknya.
Kita adalah serpihan debu suci yang kini berdoa di bumi, disentuh hujan dan percikan api Ramadhan berulang kali, agar layak disucikan dalam cahaya pagi Idul Fitri yang hakiki.
Maka belajarlah melepas beban yang tak perlu lagi dibawa-bawa, bersama dendam yang tak lagi punya tempat di dalam dada, agar kita bisa pulang dengan hati yang lega dan merdeka.
Sebab tak ada lagi kemenangan yang lebih mumpuni, selain dari hati yang bertakbir saat mensyukuri, atas takluknya ego pada diri sendiri.
Sesungguhnya, di tengah keluarga kita, dapat ditemukan jalan surga yang nyata, bukan tentang yang nanti akan ada di sana, tapi yang telah lama hadir di hadapan mata kita.
Kita berdiri bersama, bukan karena tak pernah terluka, namun karena memilih untuk saling menjaga tempat kali pertama kita, belajar tentang cinta dalam wujud apa saja.
Dalam melintasi hari, waktu akan berlalu jadi puisi, begitu pula tawa dan air mata akan menyatu dalam bingkai memori, di hati yang kini dan nanti terus kembali menjadi murni.
Maka, meskipun keluarga kita tidak sempurna, kita akan tetap bisa saling menerima dengan hati yang terbuka, bagaikan langit luas di atas kepala, dan lapangnya lautan di dalam dada.
Syaikh Sy. Ali Muhammad Jawdi
(Kyai Ageng Arya Pamungkas DW)
Salam Cahaya!
Bersyukur
Berdoa
Bahagia
Dan Teruslah Berkarya
~Paguyuban Madinatul Fatihah~
0 Comments