“Ramai Dalam Kesepian”
Janganlah membiarkan diri kita ini nanti mati dalam keadaan seolah-olah tidak pernah hidup, hanya karena kita terlena untuk hidup seolah-olah kita ini sudah pasti tidak akan pernah mati dikemudian hari nanti.
Jika mengisi kehidupan itu adalah upaya penting guna memberi makna dan warna ke dalamnya, maka bijaksanalah ketika memilih dengan apa, siapa, dan bagaimana selanjutnya kita akan banyak mengisinya.
Perahu kayu yang sederhana pun bisa tetap mengambang dan tak akan tenggelam meskipun dikepung oleh segerombolan air di lautan, selama air itu hanya berkeliaran saja sebagai kerumunan di luaran.
Tetapi begitu airnya dibiarkan masuk ke dalam, maka perlahan-lahan ia pun akan mulai tenggelam, bukan dikarenakan oleh segala air yang ada di sekitaran, namun karena kemasukan sesuatu yang hanya baik ketika adanya di luaran.
Jadi, apapun yang datang ke hadapan kita, tetaplah kita bersyukur, berdoa, dan merasa bahagia, agar kita bisa terus berkarya, memancarkan hangat dan terangnya cahaya, dengan tetap menyimpan dan menjaga nyala apinya.
Adapun ketika rasa sakit di hati mampir dan hadir menyapa kita, maka yakinlah akan hikmah yang terbungkus rapi di balik setiap peristiwa, dimana itulah isyarat akan perlunya sesuatu diubah dari dalam hidup kita.
Ingatlah, bahwa hanya di dalam momen sunyi, sepi, dan sendirinya saja, sang ulat akan mendapatkan sayapnya, dan menemukan dirinya sebagai mahluk yang sepenuhnya beda keadaannya, dan juga masa depannya.
Syaikh Ali Muhammad Jawdi
(Kyai Ageng Arya Pamungkas DW)
Salam Cahaya!
Bersyukur
Berdoa
Bahagia
Dan Teruslah Berkarya
#MadinatulFatihah
#SyaikhAliMuhammadJawdi
#KyaiAgengAryaPamungkasDW
0 Comments